DIAGRAMKOTA.COM – Red Gerard, atlet snowboard asal Amerika Serikat, telah menjadi ikon dalam dunia olahraga musim dingin. Pada Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang, ia menghadirkan kisah yang tak terduga dan membanggakan. Saat itu, ia masih berusia 17 tahun dan menjadi atlet paling muda yang memenangkan emas dalam sejarah Olimpiade Musim Dingin Amerika.
Kisah Awal yang Tidak Terduga
Pada awalnya, Gerard tidak percaya diri dengan kemampuannya. Ia bahkan melewatkan alarm pagi hari karena begadang menonton serial “Brooklyn Nine-Nine” bersama temannya. Ia harus meminjam jaket temannya yang terlalu besar, tetapi hal itu tidak menghalangi dirinya untuk tampil luar biasa di final snowboard slopestyle. Dengan perolehan skor yang sangat baik, ia berhasil meraih medali emas.
“Saya tidak pernah membayangkan ini akan terjadi,” kata Gerard. “Itu benar-benar kejutan.”
Kemenangan ini membuatnya menjadi atlet snowboard terfavorit di Amerika dan menjadi bintang baru dalam olahraga musim dingin. Namun, kejayaan ini tidak bertahan lama. Di Olimpiade 2022 di Beijing, ia hanya mendapatkan peringkat keempat, yang menyebabkan rasa frustrasi dan kekecewaan.
Rasa Kecewa dan Kritik terhadap Sistem Penilaian
Gerard mengaku bahwa penilaian di Olimpiade 2022 tidak adil. Ia menyebutnya sebagai “menyakitkan” dan mengkritik sistem penilaian yang dinilai tidak konsisten. Meski ia tidak berada dalam kondisi terbaiknya, ia merasa bahwa penilaian memberikan ketidakadilan.
“Ada sedikit politik di baliknya,” katanya. “Tapi itulah yang kita hadapi dalam olahraga ini. Setiap kompetisi, baik 30 atau 60 peserta, tidak ada yang sepakat tentang cara penilaian.”
Kembali ke Jalur yang Benar
Kini, pada Olimpiade Musim Dingin 2026 di Italia, Gerard kembali berusaha untuk membuktikan diri. Meskipun ia gagal dalam babak kualifikasi big air, ia tetap fokus pada event slopestyle yang merupakan kekuatannya. Jika berhasil meraih emas lagi, ia akan menjadi atlet snowboard pertama yang memenangkan dua emas Olimpiade secara beruntun.
Kehidupan Sehari-hari dan Pengaruh Fame
Meski memiliki popularitas yang meningkat, Gerard tetap menjaga sifatnya yang santai. Ia dikenal sebagai atlet yang mudah bergaul dan sering menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-temannya. Awalnya, keluarganya tidak terlalu menghargai olahraga ini, tetapi setelah ia mulai menang dan masuk dalam tim nasional, mereka mulai mengakui bakatnya.
“Dulu, kami melihat kompetisi sebagai sesuatu yang membosankan,” ujarnya. “Tapi setelah saya menang dan masuk tim, mereka mulai menghargainya.”
Persiapan untuk Final Slopestyle
Di Olimpiade 2026, Gerard mempersiapkan diri dengan matang. Ia telah memenangkan gelar X Games beberapa kali dan berada dalam kondisi fisik terbaiknya. Ia juga akan didampingi oleh rekan-rekannya seperti Ollie Martin, seorang atlet muda yang sedang menjalani debut Olimpiade meski sempat cedera.
“Ini adalah pertandingan yang sangat berat,” katanya. “Saya merasa gugup, tapi saya siap menghadapinya.”
Final slopestyle akan dimulai pada pukul 12:30 waktu setempat. Gerard berencana untuk tiba lebih awal, mempelajari jalur, dan merancang run yang bisa membawanya ke emas.
Masa Depan dan Harapan
Gerard tetap berharap untuk meraih emas kedua, meskipun ia mengakui bahwa kesuksesan tidak selalu menjadi tujuan utamanya. Ia lebih fokus pada pengalaman dan pertumbuhan sebagai atlet.
“Fame bukan tujuan saya,” katanya. “Yang ingin saya capai adalah emas kedua.”***





