Hok Swie Bio Bojonegoro: Membentuk Generasi Muda yang Berakar pada Budaya dan Agama

SOROTJATIM.COM – Di tengah dinamika kehidupan modern, pentingnya menjaga tradisi dan nilai-nilai budaya serta agama menjadi semakin krusial. Di Bojonegoro, upaya penguatan generasi muda melalui ruang kaderisasi di lingkungan kelenteng menunjukkan komitmen untuk memastikan warisan budaya tetap hidup dan berkembang. Salah satu contoh nyata adalah program yang dilakukan oleh Kelenteng Hok Swie Bio, yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan anak-anak dan remaja.

Program Pembinaan Generasi Muda di Kelenteng

Di bawah naungan Tri Dharma, yaitu Khonghucu, Buddha, dan Tao, terdapat dua program utama yang bertujuan membentuk generasi muda yang tangguh dan berakar pada nilai-nilai luhur. Pertama adalah Lichie, singkatan dari Litang Chielik, yang merupakan siswa-siswi Sekolah Minggu Khonghucu. Program ini berfokus pada pembinaan iman sejak dini, memberikan dasar pengetahuan tentang ajaran Khonghucu dan memperkuat identitas budaya.

Sementara itu, remaja kelenteng atau Muda-Mudi TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma) mencakup anak-anak dan remaja yang lebih luas, dengan fokus pada pembinaan lintas agama. Program ini tidak hanya mengajarkan ajaran agama, tetapi juga memupuk rasa persaudaraan universal. “Di empat penjuru lautan kita semua adalah saudara,” ujar April Rachma Nirmalasari, pendamping dan guru Sekolah Minggu Khonghucu sekaligus Koordinator muda-mudi TITD Hok Swie Bio.

Keterlibatan Anak-Anak dalam Kegiatan Tradisional

Selain pembinaan spiritual, anak-anak dan remaja juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan tradisional, seperti perayaan Imlek. Misalnya, dalam perayaan Imlek 2577 Kongzili, mereka turut serta dalam tarian naga dan barongsai, memberikan warna baru dalam kegembiraan tradisional. “Imlek jadi semakin semarak dan ceria dengan peran aktif mereka,” tambah April.

Kehadiran generasi muda dalam acara-acara besar seperti Imlek menunjukkan bahwa mereka bukan hanya pewaris tradisi, tetapi juga penggerak yang mampu menghidupkan kembali nilai-nilai lama dalam konteks modern. Hal ini sangat penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan agama di tengah perubahan sosial yang cepat.

Peran Penting dalam Menjaga Toleransi dan Keberagaman

Selain menjaga tradisi, program ini juga memiliki peran penting dalam menjaga toleransi dan keberagaman masyarakat. Dengan melibatkan anak-anak dan remaja dari berbagai latar belakang agama, Kelenteng Hok Swie Bio berupaya membangun kesadaran akan pentingnya kerukunan antar umat beragama. “Mereka adalah mata rantai penting dalam menjaga tradisi tetap hidup, sekaligus merawat toleransi di tengah keberagaman masyarakat,” ujar Ketua Bidang Peribadatan Kelenteng Hok Swie Bio, Kho Tjhiang San atau Santoso.

Program ini juga menjadi contoh bagaimana institusi keagamaan dapat menjadi wadah yang inklusif, mendorong pemahaman antar agama, dan menciptakan suasana harmonis di tengah keragaman.

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Meskipun telah menunjukkan hasil positif, program ini masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan sumber daya dan partisipasi yang tidak merata. Saat ini, sekitar 20 hingga 25 anak aktif berkegiatan di Bojonegoro, sementara sekitar 50 lainnya menempuh pendidikan di luar kota. Namun, pengurus kelenteng tetap optimis bahwa generasi muda ini akan menjadi tulang punggung dalam menjaga warisan budaya dan agama.

Harapan besar diarahkan agar generasi tersebut dapat terus berkembang dan tumbuh, serta kelak meneruskan ajaran dan tradisi yang telah diwariskan. Dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, program ini diharapkan bisa menjadi model pembinaan generasi muda yang berbasis budaya dan agama.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *