Sejarah Panjang dan Asal Usul Nama Tulungagung

SOROTJATIM.COM – Tulungagung, sebuah kota yang terletak di Jawa Timur, memiliki sejarah yang sangat panjang dan kaya akan legenda. Nama “Tulungagung” sendiri memiliki asal usul yang menarik dan berakar pada peristiwa sejarah serta mitos lokal. Salah satu sumber utama yang mengungkapkan asal usul nama ini adalah prasasti Lawang, yang ditemukan dan mencatat peristiwa penting pada tahun 125 Masehi. Meski demikian, data tentang masa kekuasaan penguasa pada saat itu masih belum sepenuhnya jelas.

Selain itu, ada juga legenda yang sering dikaitkan dengan munculnya nama Tulungagung, yaitu kisah Joko Baru. Legenda ini menceritakan tentang seorang tokoh yang dianggap sebagai pendiri atau penanda awal perkembangan wilayah tersebut. Meskipun tidak dapat dibuktikan secara historis, cerita ini menjadi bagian dari identitas lokal dan memperkaya narasi sejarah kota ini.

Perubahan nama kota ini terjadi pada tanggal 1 April 1914, ketika Bupati Ngrowo ke-11, Raden Tumenggung Partowijoyo, meresmikan penggunaan nama “Tulungagung”. Sejak saat itu, nama ini resmi digunakan hingga kini. Sebelumnya, wilayah ini dikenal dengan nama Ngrowo, yang sudah tercatat dalam prasasti Kemulan sejak tahun 1194 Masehi. Nama ini juga muncul kembali dalam dokumen Negarakertagama, yang merupakan sumber penting untuk memahami sejarah kerajaan Majapahit.

Keistimewaan Geografis dan Sumber Daya Alam

Selain memiliki sejarah yang kaya, Tulungagung juga dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan sumber daya alam. Salah satu yang paling menonjol adalah produksi marmer. Wilayah ini menjadi salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia, sehingga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah. Marmer dari Tulungagung digunakan dalam berbagai proyek infrastruktur dan bangunan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Selain marmer, kota ini juga memiliki potensi wisata alam yang menarik. Salah satunya adalah pantai Popoh, yang menjadi destinasi favorit bagi para pengunjung. Namun, baru-baru ini, nelayan setempat mengeluhkan kesulitan dalam menangkap ikan akibat kondisi cuaca ekstrem, seperti gelombang tinggi dan angin kencang. Hal ini memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Wisata Budaya dan Sejarah

Tulungagung juga memiliki banyak objek wisata budaya dan sejarah yang patut dikunjungi. Salah satunya adalah Candi Gayatri, yang menjadi salah satu situs purbakala penting di kawasan ini. Selain itu, kota ini juga memiliki beberapa makam waliyullah yang menjadi pusat ziarah, seperti Makam Sunan Kuning dan Makam Syekh Basyaruddin.

Makam-makam ini tidak hanya memiliki nilai spiritual tetapi juga menjadi tempat yang sarat akan sejarah. Bahkan, pintu masuk ke makam Sunan Kuning dibuat kecil agar menjaga adab dan kesopanan para peziarah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat sangat menghargai tradisi dan nilai-nilai keagamaan yang turun temurun.

Perkembangan Modern dan Tantangan

Meski memiliki sejarah yang kaya, Tulungagung juga menghadapi tantangan dalam pembangunan modern. Misalnya, revitalisasi Pasar Campurdarat yang telah berlangsung selama lima tahun pasca-kebakaran 2021 masih belum terealisasi secara maksimal. DPRD setempat meminta pemerintah daerah untuk memenuhi kewajiban dalam hal penganggaran infrastruktur.

Selain itu, pembangunan jembatan Junjung yang direncanakan dimulai pada Maret 2026 juga menjadi perhatian besar. Pemkab Tulungagung mengalokasikan dana sebesar Rp7,5 miliar untuk rekonstruksi total jembatan ini.

Potensi Wisata dan Tradisi Lokal

Di samping itu, kota ini juga memiliki tradisi unik yang turut memperkaya budaya lokal. Contohnya adalah ritual Geren, yang dilakukan menjelang Ramadan dan membawa dampak positif terhadap omzet penjual kembang setaman. Selain itu, perayaan Imlek 2557 di Klenteng Tjoe Tik Kiong juga menjadi momen penting yang diperingati dengan penuh kekhidmatan dan doa.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *