SOROTJATIM.COM – Festival budaya Kya-Kya Chunji Fest Vol.3 menjadi salah satu acara paling dinanti dalam perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kota Surabaya. Acara ini tidak hanya memperkenalkan tradisi Tionghoa, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pelestarian budaya lokal.
Tradisi dan Hiburan yang Memikat
Perayaan Imlek selalu dikaitkan dengan lampion, barongsai, dan berbagai hidangan khas. Di Surabaya, festival ini hadir sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang menghidupkan kawasan Pecinan. Acara ini digelar di Kembang Jepun, tempat yang dikenal sebagai pusat aktivitas budaya Tionghoa di kota tersebut.
Selama tiga hari, mulai dari 14 hingga 16 Februari 2026, pengunjung dapat menikmati pertunjukan seni, wisata kuliner, dan berbagai aktivitas komunitas. Meskipun cuaca sempat memburuk, antusiasme pengunjung tetap tinggi. Panitia menyebutkan bahwa jumlah pengunjung bisa mencapai 1.000 hingga 1.500 orang per hari.
Kolaborasi Lintas Sektor
Pengelolaan festival ini melibatkan kerja sama antara berbagai instansi pemerintah. Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya menjadi penanggung jawab utama. Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) turut mendukung kelancaran acara.
Annisa Zaraswati, perwakilan panitia, menjelaskan bahwa festival ini bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga upaya untuk melestarikan budaya Pecinan Surabaya. Ia berharap kawasan ini terus hidup, bukan hanya saat Imlek saja.
Aktivitas yang Menghibur dan Edukatif
Selain pertunjukan seni seperti wayang potehi dan tarian Tionghoa, festival ini juga menyediakan berbagai aktivitas edukatif. Salah satunya adalah partisipasi komunitas reptil independen Surabaya. Mereka membawa berbagai hewan seperti iguana, gecko, dan piton untuk sesi foto dan edukasi.
Joko Gondrong, perwakilan komunitas tersebut, mengatakan bahwa tujuan mereka adalah menghibur sekaligus memberikan pemahaman tentang reptil kepada masyarakat. “Kami senang bisa ikut meramaikan dan mengenalkan reptil ke masyarakat,” ujarnya.
Wisata Kuliner dan Ekonomi Lokal
Dari sisi ekonomi, festival ini menghadirkan 54 tenant UMKM yang berasal dari kawasan Pecinan. Selain itu, ada delapan tenant undangan dari hotel dan pelaku usaha kuliner. Pengunjung bisa menikmati berbagai jenis makanan, baik halal maupun non-halal.
Untuk meningkatkan minat masyarakat, panitia juga mengundang influencer kuliner. Tujuannya adalah agar masyarakat tahu bahwa Kya-Kya tidak hanya buka saat Imlek, tetapi juga rutin setiap minggu.
Wisata Berkelanjutan dan Partisipasi Masyarakat
Festival ini juga terintegrasi dengan paket wisata walking tour kawasan Pecinan. Pengunjung yang mengikuti tur akan mendapatkan voucher Rp 25.000 untuk berbelanja di Kya-Kya, sehingga mendorong perputaran ekonomi.
Antusiasme pengunjung terlihat dari kehadiran keluarga yang datang bersama anak-anak. Arkananta Bayu Satyo (8 tahun), misalnya, mengaku tertarik dengan musik Tionghoa dan pertunjukan barongsai. “Seru, aku suka musiknya. Pengen sering ada acara kayak gini,” katanya.
Tidak hanya pengunjung lokal, festival ini juga menarik wisatawan mancanegara. Christ (46 tahun) asal Amsterdam mengungkapkan kekagumannya terhadap Surabaya. “Itu sangat indah dan orang-orangnya ramah. Harusnya selalu ada acara seperti ini,” ujarnya.
Kya-Kya Chunji Fest Vol.3 tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga wadah untuk memperkuat identitas budaya Surabaya. Dengan kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat, festival ini berhasil menciptakan ruang yang inklusif dan edukatif. Dengan begitu, budaya Pecinan Surabaya tetap terjaga dan dinikmati oleh generasi masa depan.***





