SOROTJATIM.COM – Perayaan Ramadan di Indonesia sering kali menjadi momen yang penuh makna, bukan hanya sebagai bulan suci untuk beribadah, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperkuat persaudaraan. Namun, perbedaan dalam penentuan awal puasa kerap menjadi topik hangat menjelang bulan ramadan. Di Kabupaten Bondowoso, hal ini kembali menjadi perhatian masyarakat dan instansi terkait.
Kementerian Agama (Kemenag) Bondowoso menegaskan bahwa meskipun tanggal awal puasa bisa berbeda antar daerah atau komunitas, yang penting adalah menjaga keharmonisan dan toleransi sesama. Kepala Kantor Kementerian Agama Bondowoso, Ali Masyhur, menyampaikan pesan tersebut secara tegas. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak memperuncing perbedaan tersebut hingga berujung pada gesekan sosial.
“Perbedaan jangan sampai berubah menjadi gesekan sosial. Justru sebaliknya, momentum ini harus memperkuat sikap saling menghargai,” ujarnya. Pesan ini disampaikan dengan harapan agar semua pihak dapat menjaga suasana harmonis dalam menyambut Ramadan.
Dinamika Penentuan Awal Puasa
Di tengah proses penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah, Kemenag Bondowoso tetap melaksanakan rukyatul hilal. Pemantauan dilakukan di kawasan Masjid At-Taqwa sebagai bagian dari proses resmi. Namun, cuaca yang kurang mendukung membuat pemantauan sulit dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa penentuan awal puasa bukan hanya tentang teknis ilmiah, tetapi juga kondisi alam yang tidak selalu dapat diprediksi.
Secara nasional, pemerintah menetapkan awal Ramadan melalui sidang isbat yang melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam. Keputusan tersebut menjadi pedoman resmi yang diumumkan kepada publik. Namun, di tingkat lokal, seperti di Bondowoso, masyarakat masih memiliki kebiasaan dan metode sendiri dalam menentukan awal puasa.
Perbedaan sebagai Bagian dari Tradisi
Menurut Ali Masyhur, dinamika perbedaan dalam penentuan awal puasa bukanlah hal baru. Dalam tradisi keislaman di Indonesia, perbedaan metode hisab dan rukyat telah lama menjadi bagian dari khazanah fiqih. Hal ini mencerminkan keberagaman dalam pemahaman agama, yang justru menjadi kekayaan bangsa.
Namun, ia menilai kedewasaan umat justru terlihat dari cara menyikapi perbedaan tersebut. “Ramadan adalah bulan persatuan, bulan memperbaiki hubungan, bukan sebaliknya,” katanya. Ia berharap semangat ibadah tidak terganggu oleh perdebatan yang tidak perlu.
Kesiapan Masyarakat dan Instansi
Selain itu, Kemenag Bondowoso juga memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tetap menjaga ketenangan dan keharmonisan. Meski ada perbedaan tanggal, masyarakat diimbau untuk saling menghormati dan menghargai. Bahkan, beberapa komunitas di Bondowoso sudah mulai mempersiapkan diri untuk berpuasa lebih awal, menggunakan metode yang mereka percayai.
Proses ini tidak hanya berdampak pada kehidupan spiritual, tetapi juga pada kehidupan sosial dan ekonomi. Seperti yang terlihat di pasar-pasar, harga bahan pokok mulai meningkat menjelang Ramadan. Ini menjadi perhatian bagi pemerintah setempat, yang memastikan stok kebutuhan pokok aman dan harga tetap terjangkau.
Momen Persatuan dalam Keberagaman
Ramadan tidak hanya tentang puasa, tetapi juga tentang kebersamaan dan pengertian. Di Bondowoso, momen ini menjadi ajang untuk memperkuat ikatan antar komunitas, baik dalam hal keagamaan maupun sosial. Berbagai kegiatan seperti nyekar, megengan, dan pengajian rutin digelar, menunjukkan betapa pentingnya keharmonisan dalam keberagaman.***




