SOROTJATIM.COM – Mark McMorris, atlet snowboard asal Kanada, kini tengah berada di ambang sejarah besar. Ia memimpikan menjadi atlet pertama yang meraih empat medali berturut-turut dalam nomor snowboard slopestyle di Olimpiade Musim Dingin. Dengan tiga medali perunggu dari edisi sebelumnya, ia kini menargetkan gelar emas pertamanya di ajang bergengsi ini.
McMorris telah membuktikan dirinya sebagai salah satu legenda olahraga salju. Namun, tantangan yang dihadapinya di Milano Cortina 2026 tidak bisa dianggap remeh. Di lintasan Livigno Snow Park, persaingan sangat ketat dengan hadirnya atlet-atlet muda yang siap menggulingkan pengaruhnya.
Persaingan Sengit di Babak Kualifikasi
Dalam babak kualifikasi, McMorris hanya mampu menempati posisi ketiga dengan skor 81.81. Posisi teratas justru dikuasai oleh Dane Menzies, atlet Selandia Baru, yang mencatatkan skor fantastis 86.06. Aksinya di kualifikasi menunjukkan kemampuan teknis yang luar biasa dan nyaris tanpa kesalahan.
Selain Menzies, Marcus Kleveland dari Norwegia juga menjadi ancaman serius dengan skor 81.86. Keduanya memberikan tekanan berarti bagi McMorris, yang harus berjuang keras untuk mempertahankan posisinya di babak final.
Final yang Menentukan Nasib
Babak final akan menggunakan format tiga kali kesempatan (run), di mana hanya skor terbaik yang akan digunakan untuk menentukan pemenang. Di lintasan yang menantang, kemampuan adaptasi McMorris terhadap rintangan rail dan jump akan menjadi faktor penentu apakah ia berhasil mewujudkan ambisi “quatrick”-nya atau justru terjungkal oleh dominasi wajah-wajah baru.
Juara bertahan Red Gerard dari Amerika Serikat dan Su Yiming dari Tiongkok juga masuk ke fase 12 besar, menambah kompleksitas pertandingan. Ini menunjukkan bahwa persaingan di ajang ini tidak hanya melibatkan McMorris, tetapi juga atlet-atlet hebat dari berbagai belahan dunia.
Tekanan dan Harapan yang Menghimpit
McMorris memiliki pengalaman yang matang, tetapi usianya yang semakin tua membuat banyak orang khawatir tentang stamina dan kemampuannya dalam menghadapi kompetitor muda. Meskipun demikian, ia tetap optimis dan percaya pada kemampuannya sendiri.
“Kami sudah bersiap untuk semua kemungkinan. Kami tahu persaingan akan sangat ketat, tapi saya siap menghadapinya,” ujarnya.
Keberhasilan atau Kegagalan?
Pertanyaan utamanya adalah apakah McMorris masih mampu mengalahkan para atlet muda yang sedang naik daun. Jika ia berhasil, maka ia akan menjadi ikon olahraga yang tak terlupakan. Namun, jika gagal, maka ia harus rela melepaskan mimpi empat medali berturut-turut.
Meski begitu, apa pun hasilnya, McMorris telah membuktikan bahwa ia adalah legenda yang layak diingat. Dengan semangat dan tekadnya, ia akan terus berjuang hingga akhir.
Olimpiade Musim Dingin 2026 bukan hanya tentang medali, tetapi juga tentang semangat, keberanian, dan keinginan untuk terus berkembang. Bagi McMorris, ini adalah momen yang sangat penting dalam kariernya. Apapun hasilnya, ia akan tetap menjadi inspirasi bagi banyak atlet muda yang ingin mengikuti jejaknya.***




