Perbedaan Penetapan Awal Ramadan di Berbagai Negara: Arab Saudi dan Indonesia

SOROTJATIM.COM – Pemantauan hilal menjadi faktor utama dalam menentukan awal bulan Ramadan. Setiap negara memiliki mekanisme sendiri untuk memastikan keakuratan penanggalan hijriyah. Proses ini melibatkan pengamatan langsung atau perhitungan astronomis yang dilakukan oleh lembaga resmi atau komunitas tertentu. Hasilnya, beberapa negara telah menetapkan 18 Februari sebagai awal Ramadan sementara sebagian lainnya memilih 19 Februari.

Negara yang Menetapkan 18 Februari sebagai Awal Puasa

Beberapa negara yang telah mengumumkan bahwa 18 Februari 2026 adalah hari pertama Ramadan antara lain Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Palestina, Sudan, Irak, Kanada, Amerika Serikat, Yaman, dan Lebanon. Keputusan ini diambil setelah mereka melihat hilal pada tanggal 17 Februari.

Menurut seorang ahli astronomi lokal, “Pemantauan hilal yang dilakukan secara bersamaan di berbagai wilayah memberikan indikasi bahwa bulan telah muncul. Hal ini memicu penetapan awal Ramadan lebih cepat.”

Negara yang Memilih 19 Februari sebagai Awal Puasa

Sebaliknya, Indonesia, Malaysia, Singapura, Suriah, Yordania, Pakistan, Iran, Tunisia, Oman, Turki, Australia, Jepang, Prancis, Brunei Darussalam, Kazakhstan, Kirgistan, Azerbaijan, Mesir, Maroko, Filipina, dan Uzbekistan memutuskan untuk memulai puasa pada 19 Februari. Alasan utamanya adalah karena hilal belum terlihat dengan jelas pada tanggal 17 Februari.

Ahli agama setempat menjelaskan, “Kami memprioritaskan kriteria yang lebih ketat dalam menentukan awal Ramadan. Kami tidak ingin mengambil risiko dengan menetapkan tanggal yang belum pasti.”

Pengaruh Pemantauan Hilal pada Kebijakan Agama

Pemantauan hilal bukan hanya sekadar ritual religius, tetapi juga menjadi bagian dari kebijakan nasional di banyak negara. Di beberapa wilayah, pemerintah bahkan membentuk tim khusus untuk melakukan pengamatan. Proses ini sering kali diiringi dengan protokol keselamatan dan pengawasan agar tidak terjadi kekacauan di masyarakat.

“Setiap tahun, kami melibatkan para pemimpin agama dan ilmuwan untuk memastikan bahwa keputusan awal Ramadan benar-benar akurat,” ujar seorang pejabat dari lembaga pengawasan keagamaan.

Dampak Perbedaan Tanggal Puasa pada Masyarakat

Perbedaan tanggal puasa menyebabkan adanya perbedaan dalam perayaan dan aktivitas keagamaan. Misalnya, masyarakat di Arab Saudi akan mulai berpuasa lebih dulu dibandingkan penduduk Indonesia. Hal ini juga memengaruhi jadwal imsakiyah dan sholat tarawih.

“Kami harus menyesuaikan diri dengan perbedaan ini. Terutama bagi umat Islam yang tinggal di luar negeri, mereka perlu memperhatikan tanggal puasa sesuai wilayah tempat tinggal mereka,” tambah seorang tokoh masyarakat.

Tantangan dalam Menjaga Konsistensi Penanggalan

Meskipun ada standar internasional dalam penanggalan hijriyah, implementasinya tetap bervariasi. Hal ini terjadi karena perbedaan teknik pengamatan dan kepercayaan terhadap metode yang digunakan. Beberapa negara memilih metode tradisional, sementara yang lain lebih percaya pada teknologi modern.

“Kita perlu mencari solusi yang bisa mengakomodasi semua pihak. Konsensus global akan sangat membantu dalam menghindari kebingungan,” kata seorang pakar keagamaan.

Awal Ramadan 2026 menunjukkan betapa kompleksnya proses penentuan tanggal puasa. Meski berbeda-beda, semua negara tetap berupaya untuk menjaga keharmonisan dan keakuratan dalam menjalankan ibadah. Perbedaan ini juga menjadi pengingat bahwa keberagaman dalam praktek keagamaan adalah hal yang wajar dan patut dihargai.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *