SOROTJATIM.COM – Kawasan Ijen di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tidak hanya dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi arabika terbaik di Indonesia, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan. Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan pemanfaatan lahan semakin meningkat, sehingga memicu kekhawatiran akan risiko kerusakan lingkungan dan konflik agraria.
Untuk menghadapi tantangan ini, PTPN I Regional 5 melakukan serangkaian upaya strategis, termasuk menggelar Forum Diskusi Grup (FGD) untuk memperkuat pengawasan terhadap aset negara yang dikelola. FGD ini melibatkan berbagai pihak, seperti lembaga pemerintah, pengelola lahan, dan organisasi masyarakat, guna menyusun rencana tindakan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Peran Kritis Kawasan Ijen dalam Ekonomi dan Lingkungan
Menurut Region Head PTPN I Regional 5, Subagiyo, lahan HGU (Hak Guna Usaha) yang dikelola oleh perusahaan merupakan aset negara yang harus dijaga dari penyalahgunaan dan alih fungsi ilegal. “Lahan HGU yang kami kelola adalah aset negara yang wajib dijaga. Setiap pemanfaatan harus sesuai ketentuan hukum agar tidak menimbulkan kerugian negara maupun kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Ijen tidak hanya menjadi sumber produksi unggulan, tetapi juga berfungsi sebagai penyangga lingkungan. Perubahan tutupan lahan, seperti penanaman tanaman semusim tanpa izin, dapat memicu erosi, longsor, dan bahkan banjir di wilayah hilir jika tidak dikendalikan secara tegas.
Upaya Pengawasan dan Penegakan Hukum
Kabid Pengawasan dan Penegakan Hukum, DLH Jatim Ainul Huri, menekankan bahwa setiap pemegang izin usaha wajib menjaga fungsi lingkungan di area konsesinya. “Kami melakukan pengawasan berbasis dokumen lingkungan. Apabila terjadi pelanggaran, mekanisme penegakan hukum akan ditempuh sesuai peraturan,” katanya.
Selain itu, Ketua Kelompok Kerja dan Pengendalian Pencemaran Udara, KLH, Noor Rahcmaniah, menyoroti kerentanan tinggi kawasan pegunungan seperti Ijen terhadap degradasi lahan. Menurutnya, kepatuhan terhadap dokumen lingkungan, pengendalian aktivitas budidaya, serta pemeliharaan vegetasi penutup tanah menjadi kunci menjaga stabilitas kawasan.
Tantangan dan Solusi yang Harus Diambil
Meski telah ada langkah-langkah pengawasan, tantangan tetap besar. Salah satu isu utama adalah adanya aktivitas penanaman tanaman semusim yang dilakukan tanpa izin. Hal ini tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berpotensi memicu konflik antara pemilik lahan dan pihak-pihak lain yang ingin memanfaatkan lahan tersebut.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan kolaborasi antara PTPN, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat. Edukasi tentang pentingnya menjaga kawasan Ijen sebagai aset negara dan lingkungan harus terus dilakukan. Selain itu, sistem pengawasan yang lebih ketat dan transparan juga diperlukan agar semua pihak sadar akan tanggung jawab mereka.
Masa Depan Ijen yang Berkelanjutan
Pengelolaan kawasan Ijen yang baik akan membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar, ekonomi lokal, dan lingkungan secara keseluruhan. Dengan pendekatan yang komprehensif, Ijen dapat tetap menjadi sumber daya alam yang berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang.
Seiring dengan itu, penting untuk memastikan bahwa kebijakan dan regulasi yang ada benar-benar diterapkan secara konsisten. Dengan demikian, Ijen tidak hanya menjadi aset ekonomi, tetapi juga simbol keberlanjutan dan kearifan lingkungan.***




