Peran Industri Semikonduktor dalam Perekonomian Indonesia

SOROTJATIM.COM – Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai negara yang serius dalam menghadapi peluang industri semikonduktor. Sebagai sektor strategis dengan nilai tinggi, industri ini dianggap sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan pesatnya perkembangan teknologi global dan meningkatnya kebutuhan akan chip di berbagai lini industri, pemerintah berkomitmen untuk tidak hanya menjadi pasar produk elektronik, tetapi juga ikut berperan dalam rantai nilai global industri semikonduktor.

Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk memperkuat industri berbasis teknologi tinggi, termasuk semikonduktor, sebagai fondasi penting menuju transformasi industri dan kemandirian teknologi nasional. Industri ini dipandang sebagai tulang punggung berbagai sektor prioritas, mulai dari elektronika, otomotif, telekomunikasi, energi hingga transformasi digital. Tanpa penguasaan teknologi semikonduktor, daya saing industri nasional akan sulit melompat ke level yang lebih tinggi.

Kebutuhan Domestik yang Besar

Urgensi penguatan sektor ini semakin terlihat dari besarnya kebutuhan dalam negeri:

  • Produksi ponsel nasional mencapai 30–60 juta unit per tahun
  • Kebutuhan laptop ditargetkan 1,57 juta unit pada 2026
  • Produksi kendaraan bermotor Indonesia pada 2025 tercatat 803.867 unit, termasuk kendaraan listrik dan hybrid yang kandungan semikonduktornya tiga kali lebih besar dibanding kendaraan konvensional

Potensi Pasar Global

Dari data GlobalData, nilai pasar semikonduktor dunia dari perusahaan manufaktur besar meroket 23 persen, dari 407,9 miliar dolar AS pada 2017 menjadi 501,3 miliar dolar AS pada 2021. Artinya, permintaan semikonduktor sangat besar dan akan terus meningkat seiring percepatan elektrifikasi, digitalisasi, dan pengembangan kecerdasan buatan yang sedang masif.

Di balik peluang besar tersebut, Indonesia masih menghadapi tantangan serius berupa ketergantungan impor. Nilai impor semikonduktor Indonesia melonjak hampir dua kali lipat, dari 2,33 miliar dolar AS pada 2020 menjadi 4,87 miliar dolar AS pada periode Januari hingga November 2025. Lonjakan ini menjadi alarm bahwa tanpa penguatan ekosistem dalam negeri, Indonesia akan terus berada pada posisi rentan dalam rantai pasok global.

Strategi Pengembangan: Fokus pada Desain Chip

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pengembangan ekosistem semikonduktor dalam negeri bukanlah wacana baru. Pendekatan yang dipilih bersifat realistis dan bertahap, dengan menempatkan desain chip sebagai pintu masuk strategis sebelum melangkah ke tahap yang lebih kompleks seperti fabrikasi.

Fokus pada desain chip dinilai sebagai langkah paling masuk akal untuk tahap awal, mengingat industri semikonduktor tidak bisa dibangun secara instan karena membutuhkan talenta unggul, ekosistem riset yang kuat, serta kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, dan industri.

Merujuk Semiconductor Industry Association, desain chip merupakan aktivitas kunci di balik fungsi dan nilai suatu perangkat semikonduktor. Proses ini mencakup pendefinisian persyaratan produk untuk arsitektur dan sistem chip, serta tata letak fisik sirkuit individual yang memungkinkan semikonduktor menerima, mengirimkan, memproses, dan menyimpan data.

Dukungan Kebijakan dan Pembiayaan

Dari sisi perencanaan, pengembangan desain chip telah masuk dalam Blue Book Kementerian PPN/Bappenas. Untuk periode 2025 hingga 2029, program pengembangan ekosistem semikonduktor nasional tercantum dalam daftar rencana pinjaman luar negeri jangka menengah dengan nilai pembiayaan 16,185 juta dolar AS. Ini menandakan bahwa agenda semikonduktor sudah masuk dalam perencanaan pembangunan nasional secara terstruktur dengan skema pembiayaan yang jelas.

Pemerintah juga memperluas kolaborasi internasional, termasuk dengan Asian Development Bank pada akhir Januari 2026, untuk membahas dukungan terhadap pengembangan semikonduktor nasional, mulai dari penyusunan readiness criteria, feasibility study, hingga memastikan kesiapan proyek agar memenuhi standar internasional.

Peta Jalan Pengembangan

Pemerintah telah menyusun peta jalan pengembangan semikonduktor nasional dengan visi menjadikan Indonesia berperan aktif dalam rantai pasok global. Peta jalan tersebut mencakup empat pilar utama:

  1. Material
  2. Desain
  3. Fabrikasi (front end)
  4. Perakitan, testing, dan pengemasan (back end)

Keempat pilar tersebut ditopang oleh pengembangan SDM, riset dan inovasi, infrastruktur, serta kebijakan industri yang kondusif. Pendekatan bertahap ini mencerminkan strategi jangka panjang yang tidak hanya mengejar investasi, tetapi juga membangun kapasitas nasional secara berkelanjutan.

Penguatan Riset dan Inovasi

Pemerintah juga mendorong pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDeC), organisasi nonprofit yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia dan teknologi di bidang integrated circuits guna mengakselerasi ekosistem desain chip.

Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah menempatkan riset sebagai fondasi utama, karena tanpa talenta yang mumpuni, mustahil Indonesia bisa masuk ke industri bernilai tambah tinggi seperti semikonduktor.

Melalui langkah-langkah tersebut, Indonesia sedang membangun fondasi untuk masuk ke industri strategis bernilai tinggi yang selama ini didominasi negara-negara maju. Tantangannya memang tidak ringan, industri semikonduktor membutuhkan investasi besar, teknologi canggih, dan SDM berkelas dunia.

Namun, arah kebijakannya jelas: tidak hanya menjadi konsumen chip dunia, tetapi secara bertahap Indonesia ingin mengambil bagian sebagai produsen dan inovator dalam ekosistem semikonduktor global.

Dengan pasar domestik yang besar, kebutuhan industri yang terus meningkat, serta dukungan kebijakan dan pembiayaan yang semakin solid, peluang untuk naik kelas di sektor ini terbuka lebar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *