SOROTJATIM.COM – Setelah mengikuti pawai atau peed aye di kawasan Catur Muka Denpasar, juri menetapkan bahwa ogoh-ogoh Wit Kawit menjadi juara dalam Kasanga Festival 2026. Ogoh-ogoh ini merupakan karya dari ST ST Taruna Dharma Castra, Banjar Tengah, Desa Sidakarya.
>Sementara itu, ogoh-ogoh Banyu Pinaruh yang dibuat oleh ST Cantika, Banjar Sedana Mertha Ubung, saat penilaian on the spot ke banjar-banjar meraih nilai tertinggi terpental dari posisi enam besar. Ogoh-ogoh yang menggambarkan Dewi Saraswati ini hanya memperoleh juara favorit pilihan masyarakat.
Pertanyaannya, apa pertimbangan dewan juri dalam pemilihan juara pada perhelatan Kasanga Festival tahun ini? Salah seorang juri, I Gede Anom Ranuara, menjelaskan bahwa terpentalnya ST Cantika dari enam besar bukan karena sempat roboh usai mengikuti pawai. Namun, hal ini dikarenakan Dewi Saraswati digambarkan nengkleng atau satu kakinya terangkat ketika dalam posisi berdiri. Hal ini tidak masuk secara estetika dan logika.
“Dan sudah menjadi kesepakatan, sudah menjadi ikon-ikon di sekolah bahwa posisi kaki Dewi Saraswati itu tidak ada nengkleng. Itu logika jika penari wanita itu yang memakai butuh itu tidak masuk akal nengkleng, kan gitu. Nah nanti takutnya tiang adalah anak-anak yang melihat ogoh-ogoh itu akan memprotes Dewi Saraswati yang ada di sekolah-sekolah dengan posisi yang berdiri tegak begitu,” kata Guru Anom saat dihubungi, Senin 9 Maret 2026.
Dirinya pun mengaku sudah langsung menemui arsitek ogoh-ogoh agar dalam pembuatan terlebih dahulu mengukuhkan anatomi, barulah mesin. “Tiang sampai nanya ke pembuatnya, kenapa posisi Dewi Saraswati itu tidak disimpuhkan saja? Gerakkan pergelangan kaki dan lututnya kan berdiri sempurna jadinya. Bukan harus nengkleng dengan kelihatan yang di tengahnya itu, itu jorok sekali. Ya itu pertimbangan, tapi masyarakat umum kan tidak melihat itu,” paparnya.
Baginya, hal itu memang terlihat kecil, akan tetapi dampaknya kurang baik. “Tiang bisa terima kalau dia juara favorit. Memang itu publik yang menilai, tapi untuk kita termasuk juri-juri ada pertimbangan etika. Kemarin tiga juri yang on the spot ke banjar juga baru ngeh saat tiang katakan begitu. Sehingga mereka juga kaget,” paparnya.
Penilaian yang Berlangsung Ketat
Terkait kemenangan Wit Kawit, pihaknya menyebut dari segi anatomi, angle dan proporsi ogoh-ogoh memang bagus. Selain itu, penampilannya saat pawai juga atraktif. “Penilaian memang berlangsung alot. Yang paling alot perbincangannya kan kemarin yang Banjar Ceramcam. Karena memang seni pementasannya realistis sekali kita sampai sampai geleng-geleng kepala semua juri itu melihat pementasannya. Untuk penentuannya kembali kami lihat dari anatomi, proporsi ogoh-ogoh, psikoplastisnya,” ungkapnya.
Guru Anom menambahkan penilaian untuk pawai ogoh-ogoh memiliki bobot 35 persen. Selain itu, dalam pawai juga ada penilaian terkait masukan-masukan dewan juri ketika penilaian on the spot apakah sudah diperbaiki. Dikarenakan sistemnya karnaval, juga turut dinilai kepada yang mana karnaval, juri juga menilai penampilan selayaknya karnaval, bukan hanya fragmen tari yang sifatnya ditampilkan pada titik-titik tertentu.
“Setelah itu presentase ogoh-ogoh yang ditarikan dengan fragmennya berapa persen. Artinya ogoh-ogohlah yang lebih mendapat peluang lebih banyak untuk ditarikan bukan mengunggulkan fragmen sebenarnya fungsinya sebagai tali untuk menarik ogoh-ogoh itu bisa menjadi ke titik center pementasan kan gitu,” paparnya.
Bagi ogoh-ogoh yang menggunakan mesin, juga dinilai apakah mesinnya bekerja efektif saat pawai.
Daftar Juara Kasanga Festival 2026
Perhelatan Kasanga Festival tahun 2026 di Lapangan Puputan Badung Denpasar, Bali, resmi berakhir. Dalam perhelatan ini, ogoh-ogoh berjudul Wit Kawit karya ST Taruna Dharma Castra, Banjar Tengah, Sidakarya, Denpasar keluar sebagai juara. Disusul juara kedua ST Sukarela Banjar Kepisah Pedungan, juara ketiga ST Swadharmita Banjar Ceramcam Kesiman. Juara harapan I ST Satya Dharma Banjar Pekandelan Sanur, harapan II ST Swastika Banjar Pekambingan Dauh Puri, dan harapan III ST Mekar Sari Banjar Kesambi Kesiman Kertelangu.
Dan untuk juara favorit diraih oleh ST Cantika, Banjar Sedana Mertha Ubung.
Ogoh-ogoh pemenang yakni Wit Kawit mengangkat kisah Gowaksa yang ceritanya diambil dari Lontar Ketaka Parwa tentang lahirnya para kera, Abdi Rama, dan Kekawin Nitisastra. Gowaksa digambarkan sebagai makhluk berwujud kera dengan wajah menyerupai burung, menimbulkan keresahan di tengah masyarakat karena dianggap memiliki rupa dan wajah yang tidak lazim. Namun keberadaan Gowaksa memiliki makna positif bagi Sang Rama, karena Gowaksa merupakan salah satu palawaga yang berperan dalam membantu Sang Rama menaklukkan Alengka.
Dalam narasi mitologis, Gowaksa diceritakan terlahir sebagai akibat dari kutukan Dewa Siwa, yang menyebabkan para dewa harus memiliki keturunan berwujud kera sebagai konsekuensi dari kelahiran Hanoman. Kisah Gowaksa bermula dari air yang semula diperuntukkan sebagai amerta, yaitu sumber kehidupan, namun masuknya Cupu Manik ke dalam air yang diperebutkan oleh Arya Bang, Arya Kuning, dan Dewi Anjani menimbulkan perubahan yang berdampak pada transformasi Arya Bang dan Arya Kuning menjadi makhluk berwujud kera.
Selain itu, Anjani mengalami perubahan berupa tangannya berbulu, kemudian penyatuan air kehidupan dalam diri Anjani yang secara simbolik merepresentasikan sel ovarium dengan air kehidupan pada Kesari yang merepresentasikan sel sperma sehingga mengakibatkan kelahiran Hanoman. Wit Kawit berarti awal mula suatu keturunan atau kelahiran, peristiwa ini kemudian menyebabkan Dewa Siwa menurunkan kutukan kepada para dewa, yang pada akhirnya melahirkan tokoh bernama Gowaksa.
Hadiah untuk Para Pemenang
Kepala Dinas Kebudayaan Denpasar, Raka Purwantara mengungkapkan, setiap ogoh-ogoh di 16 besar menerima uang pembinaan masing-masing Rp 30 juta, sementara enam terbaik memperoleh hadiah tambahan. “Untuk juara I mendapat hadiah Rp 50 juta, juara II Rp 40 juta, dan juara III Rp 30 juta,” kata Raka Purwantara, Senin 9 Maret 2026 pagi. Sementara untuk juara harapan masing-masing, juara harapan I Rp 20 juta, harapan II Rp 15 juta, dan harapan III Rp 10 juta. Dan untuk juara favorit mendapatkan Rp 10 juta.





