SOROTJATIM.COM – Pada awal sesi perdagangan Senin (6/4/2026), saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami lonjakan signifikan. Di sekitar pukul 09.23 WIB, harga saham BUMI mencapai Rp 244 per lembar, dengan kenaikan sebesar 7,02% dibandingkan hari sebelumnya. Lonjakan ini terjadi setelah sebanyak 1,71 miliar saham diperdagangkan, dengan frekuensi transaksi sebanyak 29.122 kali dan nilai total transaksi mencapai Rp 412,9 miliar.
>Kenaikan ini didorong oleh aksi beli yang kuat dari para investor. Berdasarkan data dari aplikasi Stockbit Sekuritas, saham BUMI mencatatkan net buy sebesar Rp 75,1 miliar, menjadi yang terbesar dibandingkan saham-saham lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa investor percaya terhadap potensi pertumbuhan BUMI dalam jangka pendek.
Sebelumnya, pada Kamis (2/4/2026), saham BUMI sempat anjlok sebesar 4,20%, tetapi investor asing tetap mencatatkan net buy di saham tersebut. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada fluktuasi, minat investor asing terhadap BUMI tetap tinggi.
Kinerja Keuangan BUMI yang Menjanjikan
Dalam laporan keuangan terbaru, Bumi Resources mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 81 juta atau sekitar Rp 1,35 triliun. Angka ini naik sebesar 20,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih ini menjadi indikator positif bagi kinerja keuangan perusahaan, terutama setelah sebelumnya BUMI sempat mengalami defisit besar.
Per 31 Desember 2025, BUMI membukukan saldo laba ditahan sebesar US$ 81 juta. Sebelumnya, pada akhir 2024, BUMI masih mencatatkan defisit sebesar US$ 2,28 miliar. Perusahaan kemudian melakukan kuasi reorganisasi untuk memperbaiki kondisi keuangannya.
Kuasi Reorganisasi dan Tujuan Jangka Panjang
Bumi Resources melakukan kuasi reorganisasi dengan cara mengeliminasi akumulasi rugi (defisit) menggunakan posisi agio saham. Agio saham adalah selisih antara setoran modal dengan nilai nominal saham. Dengan langkah ini, BUMI berharap dapat memperbaiki kesehatan keuangan perusahaan agar dapat melakukan pembagian dividen tunai.
Menurut manajemen BUMI, tujuan utama dari rencana kuasi reorganisasi adalah untuk meningkatkan kinerja keuangan dan memastikan stabilitas jangka panjang. Rencana ini juga menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun kembali reputasi dan kepercayaan investor.
Rencana Rapat Umum Pemegang Saham
BUMI akan mengundang pemegang saham untuk menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) paling lambat pada Juni 2026. RUPST ini akan menjadi momen penting bagi perusahaan untuk menyampaikan laporan keuangan dan rencana strategis ke depan.
Potensi Peningkatan Harga Saham
Berdasarkan tren saat ini, saham BUMI memiliki potensi untuk terus meningkat. Investor memperhatikan kinerja keuangan yang stabil dan langkah-langkah strategis yang diambil oleh perusahaan. Selain itu, adanya aksi beli yang kuat dari investor asing memberikan sinyal positif terhadap prospek BUMI.
Selama beberapa bulan terakhir, saham BUMI sering kali menjadi incaran investor karena kinerja yang dinamis dan potensi pertumbuhan yang baik. Meski ada risiko pasar, saat ini BUMI tampaknya sedang dalam fase penguatan yang kuat.
Perspektif Investor
Para analis pasar melihat kenaikan saham BUMI sebagai tanda bahwa perusahaan sedang memperbaiki diri. Dengan kinerja keuangan yang meningkat dan strategi reorganisasi yang efektif, BUMI memiliki peluang besar untuk kembali menjadi salah satu emiten unggulan di pasar modal Indonesia.
Investor yang tertarik dengan saham BUMI disarankan untuk terus memantau perkembangan perusahaan dan memperhatikan berita-berita terkini yang bisa memengaruhi harga saham. Dengan alasan tersebut, BUMI tetap menjadi pilihan menarik bagi para pemain pasar modal.***




