
SOROTJATIM.COM –
Tarawih 8 Rakaat vs 20 Rakaat: Mana yang Lebih Utama? Memahami Perbedaan dan Menemukan Hikmahnya
Ramadan adalah bulan penuh berkah yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Selain puasa wajib, salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dan menjadi ciri khas bulan suci ini adalah Shalat Tarawih. Namun, seringkali muncul pertanyaan di benak banyak orang: "Shalat Tarawih itu yang benar 8 rakaat atau 20 rakaat, sih? Mana yang lebih utama?"
>Pertanyaan ini wajar adanya, mengingat praktik yang berbeda di masjid-masjid dan komunitas Muslim. Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan tersebut, mencari tahu akar sejarahnya, dan yang terpenting, membantu Anda memahami inti dari ibadah ini agar bisa menjalankan Tarawih dengan hati yang tenang dan penuh kekhusyukan.
Memahami Shalat Tarawih: Qiyamul Lail di Bulan Ramadan
Sebelum masuk ke perbedaan rakaat, mari kita pahami dulu apa itu Shalat Tarawih. Tarawih secara bahasa berarti "istirahat", merujuk pada jeda istirahat setelah setiap empat rakaat dalam shalat ini. Tarawih adalah shalat sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang dilakukan setelah shalat Isya dan sebelum shalat Witir selama bulan Ramadan. Nama lainnya adalah Qiyamul Lail (shalat malam) di bulan Ramadan.
Tujuan utamanya adalah menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, membaca Al-Qur’an, dan memohon ampunan serta keberkahan.
Akar Perbedaan: Tarawih 8 Rakaat
Praktik Shalat Tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sendiri menjadi dasar bagi mereka yang memilih 8 rakaat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, beliau pernah ditanya tentang shalat malam Rasulullah di bulan Ramadan:
“Rasulullah SAW tidak pernah shalat malam di bulan Ramadan dan di bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian shalat empat rakaat lagi, jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian shalat tiga rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis ini, dapat dipahami bahwa Rasulullah SAW melakukan 8 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat Witir, sehingga totalnya 11 rakaat. Para ulama yang berpegang pada pandangan ini menekankan pada kualitas shalat yang dilakukan oleh Nabi, yang sangat panjang, khusyuk, dan penuh penghayatan, meskipun jumlah rakaatnya tidak banyak. Bagi mereka, mengikuti persis sunnah Nabi adalah yang paling utama, karena beliau adalah teladan terbaik bagi umat manusia.
Akar Perbedaan: Tarawih 20 Rakaat
Lalu, bagaimana dengan praktik 20 rakaat? Praktik ini berakar pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA. Pada awalnya, di masa Rasulullah SAW dan awal kekhalifahan Abu Bakar RA, Tarawih seringkali dilakukan secara individual atau berkelompok kecil di rumah masing-masing.
Ketika Umar bin Khattab RA menjadi khalifah, beliau melihat bahwa umat Islam shalat Tarawih secara terpisah-pisah, membuat suasana masjid kurang teratur. Beliau kemudian berinisiatif untuk menyatukan umat Islam agar shalat Tarawih berjamaah dengan satu imam. Beliau menunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imam dan memerintahkan mereka untuk shalat 20 rakaat Tarawih, ditambah 3 rakaat Witir.
Keputusan Umar ini didasarkan pada pertimbangan kemaslahatan umat. Dengan jumlah rakaat yang lebih banyak (tetapi dengan bacaan yang mungkin lebih pendek dibandingkan shalat Nabi), diharapkan lebih banyak orang bisa mengikuti shalat berjamaah hingga selesai. Para Sahabat Nabi yang hidup pada masa itu tidak membantah keputusan Umar, sehingga ini dianggap sebagai Ijma’ Sahabat (konsensus para sahabat) yang kuat. Praktik 20 rakaat ini kemudian diikuti oleh mayoritas madzhab fiqih seperti Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali.
Lalu, Mana yang Lebih Utama?
Ini adalah pertanyaan inti yang seringkali menjadi pangkal kebingungan. Jawabannya adalah: keduanya sah dan memiliki dasar syariat yang kuat. Tidak ada satu pun yang secara mutlak "lebih utama" dalam artian menghapus keutamaan yang lain.
- Bagi yang memilih 8 rakaat: Mereka berpegang pada praktik langsung Rasulullah SAW dan menekankan pentingnya kualitas shalat, kekhusyukan, dan panjangnya bacaan serta ruku’ dan sujud.
- Bagi yang memilih 20 rakaat: Mereka berpegang pada ijma’ Sahabat di masa Umar bin Khattab RA yang bertujuan menyatukan umat dan memudahkan lebih banyak orang untuk beribadah berjamaah.
Para ulama besar sepanjang sejarah Islam telah membahas masalah ini dan umumnya menyimpulkan bahwa kedua cara tersebut valid dan dibolehkan. Imam Nawawi dari Madzhab Syafi’i, misalnya, menyatakan bahwa jumlah rakaat Tarawih adalah 20, namun juga mengakui bahwa shalat malam dengan 8 rakaat yang panjang adalah sunnah Nabi.
Fokusnya seharusnya bukan pada jumlah rakaat semata, melainkan pada:
- Kualitas Kekhusyukan: Berapa pun rakaatnya, shalat yang dilakukan dengan hati yang hadir, merenungkan setiap ayat, dan merasakan kedekatan dengan Allah jauh lebih baik daripada shalat banyak rakaat namun terburu-buru dan tanpa penghayatan.
- Keistiqamahan: Lebih baik shalat 8 rakaat setiap malam secara konsisten daripada shalat 20 rakaat hanya sesekali.
- Kapasitas Diri: Pilihlah jumlah rakaat yang sesuai dengan kemampuan fisik dan spiritual Anda. Jika Anda mampu shalat 20 rakaat dengan khusyuk, silakan. Jika 8 rakaat yang panjang dan penuh penghayatan terasa lebih pas, itu juga pilihan yang baik.
- Niat Tulus: Niatkan shalat semata-mata karena Allah SWT, bukan karena mengikuti tren atau perdebatan.
Inti dari Ibadah: Persatuan dan Toleransi
Perbedaan jumlah rakaat Tarawih seharusnya tidak menjadi alasan untuk perpecahan atau saling menyalahkan di antara umat Islam. Ini adalah salah satu bentuk ikhtilaf (perbedaan pendapat) yang wajar dalam fiqih Islam, di mana keduanya memiliki dalil dan dasar yang kuat.
Yang terpenting dari Ramadan dan ibadah Tarawih adalah semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak amal kebaikan, membaca Al-Qur’an, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta membersihkan hati dan jiwa.
Kesimpulan
Baik Shalat Tarawih 8 rakaat maupun 20 rakaat, keduanya adalah amalan yang sah dan berpahala di sisi Allah SWT. Pilihlah cara yang paling memungkinkan Anda untuk beribadah dengan penuh kekhusyukan, keistiqamahan, dan ketulusan. Hormati pilihan orang lain, dan fokuslah pada tujuan utama dari ibadah ini: meraih ridha Allah dan keberkahan Ramadan.
Semoga Ramadan kali ini membawa kita semua pada peningkatan iman dan takwa, serta mempererat tali persaudaraan sesama Muslim.





