SOROTJATIM.COM – Wiljan Pluim, seorang pemain sepak bola asal Belanda yang dikenal sebagai legenda PSM Makassar dan Borneo FC, memiliki kisah hidup yang menarik. Lahir pada 4 Januari 1989 di Zwolle, Belanda, ia memulai karier profesionalnya di Vitesse Arnhem (2008–2011) sebelum berpindah ke beberapa klub lain seperti PEC Zwolle, Roda JC, hingga Willem II.
>Kariernya mencapai puncak ketika ia bergabung dengan PSM Makassar pada 2016. Selama tujuh tahun berseragam Juku Eja, Pluim menjadi pusat perhatian dan penentu kesuksesan tim. Ia berhasil membawa PSM meraih trofi Piala Indonesia 2019 dan menjadikan tim tersebut juara Liga 1 musim 2022/2023. Setelah itu, ia sempat membela Borneo FC pada 2024 sebelum akhirnya mengumumkan pensiun dari dunia sepak bola.
Penolakan Naturalisasi Warga Negara Indonesia
Meskipun telah tinggal selama lima tahun di Indonesia, Wiljan Pluim menolak tawaran untuk dinaturalisasi sebagai Warga Negara Indonesia. Dalam wawancara dengan program Tekengeld yang tayang di ESPN NL, ia mengungkapkan bahwa pihak klub dan PSSI pernah menekannya untuk mengubah status kewarganegaraannya.
“Jika Anda bermain untuk klub yang sama di sana selama 5 tahun, Anda otomatis memenuhi syarat untuk mendapatkan paspor,” kata Pluim. “Saya ditekan oleh federasi dan klub untuk mendapatkan paspor tersebut. Kemudian Anda juga menjadi ‘pemain lokal,’ dan itu menguntungkan karena klub hanya diperbolehkan memiliki sejumlah pemain asing tertentu.”
Namun, bagi Pluim, mempertahankan identitas Belandanya adalah prioritas utama. Ia menyadari bahwa Indonesia tidak mengizinkan kewarganegaraan ganda, seperti halnya di Belanda. Baginya, kembali ke tanah air setelah masa pensiun adalah hal yang sangat penting.
“Tapi saya sudah mendengarnya dari orang lain dan langsung bertanya-tanya: bagaimana dengan paspor Belanda saya?”
“Begini, di Indonesia Anda hanya diperbolehkan memiliki satu paspor. Saya ingin kembali ke Belanda setelah karier saya berakhir, jadi saat itulah saya memutuskan untuk tidak melakukannya,” tambahnya.
Alasan Penolakan yang Kuat
Pluim menegaskan bahwa keputusannya ini bukanlah tindakan impulsif, melainkan hasil dari pertimbangan matang. Ia mengingat bahwa di Belanda, sistem kewarganegaraan sangat ketat terkait kewajiban warga negara. Hal ini membuatnya lebih memilih tetap mempertahankan kewarganegaraan asli daripada mengambil risiko kehilangan hak-haknya sebagai warga negara Belanda.
Ia juga menyebutkan bahwa pengalaman pribadi serta kenyataan bahwa Indonesia tidak memiliki sistem kewarganegaraan ganda memberinya alasan kuat untuk menolak tawaran naturalisasi. “Saya ingin kembali ke Belanda setelah karier saya berakhir, jadi saat itulah saya memutuskan untuk tidak melakukannya,” ujarnya.
Peran Pluim dalam Sepak Bola Indonesia
Selama masa baktinya di Indonesia, Wiljan Pluim menjadi salah satu pemain yang sangat berpengaruh. Ia tidak hanya menjadi mesin gol, tetapi juga menjadi figur yang dihormati oleh rekan-rekan dan penggemar. Dengan kemampuan teknik dan visi permainan yang luar biasa, ia mampu membawa PSM Makassar meraih prestasi besar.
Pluim juga dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan tidak pernah mengabaikan etika bermain. Meskipun banyak yang menginginkan dia menjadi WNI, ia tetap memegang prinsipnya sendiri. Keputusan ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya peduli pada karier profesional, tetapi juga pada identitas diri dan masa depannya.
Kesimpulan
Wiljan Pluim adalah contoh nyata dari seorang atlet yang tetap setia pada nilai-nilai pribadinya. Meskipun ditawarkan peluang besar untuk menjadi Warga Negara Indonesia, ia memilih untuk tetap mempertahankan kewarganegaraan asli. Keputusan ini tidak hanya mencerminkan keberanian dan kepercayaan diri, tetapi juga penghargaan terhadap akar dan identitasnya sendiri.




