PDI-P Jatim Perkuat Hubungan dengan NU dalam Momentum Halal Bihalal

PDI-P Jatim, NU , Halal Bihalal
(PDI-P Jatim)

SOROTJATIM.COM – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Jawa Timur menggelar acara halal bihalal di tengah suasana bulan Syawal 1447 Hijriah. Acara ini menjadi momen penting untuk memperkuat hubungan antara partai dengan masyarakat, khususnya kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk menyampaikan visi dan misi partai dalam konteks politik dan sosial.

Membangun Persatuan Berdasarkan Nilai-nilai yang Sama

Ketua DPD PDI-P Jatim Said Abdullah menekankan bahwa Jawa Timur merupakan basis dari ijo-abang, yakni santri dan abangan. Ia menjelaskan bahwa santri merepresentasikan kekuatan NU, sedangkan abangan mencerminkan kekuatan nasional yang diperjuangkan oleh PDI-P. Kedua elemen ini menjadi akar politik yang kuat hingga ke tingkat kampung-kampung di Jatim.

Said juga mengutip pendapat Clifford Geertz tentang pembelahan sosial sejak era 50-an yang kini semakin melebur. Ia menilai bahwa pemilih yang mengaku NU ternyata memberikan suara terbanyak kepada PDI-P dalam berbagai survei nasional. Hal ini menunjukkan bahwa partai tidak akan pernah meninggalkan NU.

Kesamaan Nasib antara Santri dan Abangan

Said menjelaskan bahwa santri dan abangan hanya berbeda dalam satu helai bulu. Satu pihak rajin beribadah, sementara yang lain kurang rajin. Namun, nasib mereka sama, yaitu miskin, mayoritas, dan terbelakang dalam pendidikan serta kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Menurutnya, banyak kesamaan antara kedua kelompok ini, sehingga perlu dibangun solidaritas dan persatuan.

Tugas PDI-P dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat

Menurut Said, tugas pengurus NU adalah memberdayakan warga NU, sedangkan tugas PDI-P adalah memperjuangkan kebijakan di pemerintahan daerah, DPRD, maupun pusat. Ia menegaskan bahwa PDI-P bertugas menyejahterakan warga NU dan rakyat Jatim secara keseluruhan.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai ke-NU-an seperti Islam wasathiyah, yang menekankan prinsip pertengahan, adil, seimbang, dan toleran, menjadi pedoman langkah-langkah politik PDI-P. Partai ini menolak Islam yang dihadirkan secara menakutkan, terutama di hadapan kelompok minoritas. Keislaman harus memayungi, memberi rahmat, dan kedamaian bagi semua.

Mengajak Tokoh NU Bergabung dengan PDI-P

Said menyatakan bahwa PDI-P senang jika ada tokoh NU yang menjadikan partai sebagai rumah politiknya. Ia menilai bahwa kerja sama antara NU dan PDI-P sangat penting dalam membentuk masyarakat yang harmonis dan inklusif.

Kepemimpinan yang Berbasis Nilai-Nilai Gotong Royong

Selain itu, Said menyoroti pentingnya kepemimpinan yang didasarkan pada nilai-nilai gotong royong, keadilan, dan keberlanjutan. Ia menegaskan bahwa PDI-P akan terus berkomitmen untuk membangun kesejahteraan bagi seluruh rakyat Jatim, termasuk komunitas NU.

Dengan memperkuat hubungan antara partai dan masyarakat, PDI-P Jatim berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih damai, sejahtera, dan progresif. Melalui momentum halal bihalal ini, partai ingin menunjukkan bahwa politik bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tentang kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.***

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *