SOROTJATIM.COM – Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menekankan pentingnya memahami jati diri masyarakat Jawa Timur sebagai dasar dalam merumuskan arah perjuangan politik ke depan. Ia mengajak seluruh elemen untuk merefleksikan diri, serta bagaimana semangat kolektif dibangun untuk menjawab tantangan zaman. Menurutnya, refleksi ini menjadi relevan di tengah kondisi dunia yang kian dipenuhi kepalsuan. Momentum Syawal seharusnya menjadi pengingat akan nilai ketulusan dan kejujuran, sekaligus menjadi pedoman dalam bersikap di kehidupan sosial maupun politik.
>Said Abdullah menyoroti bahwa Jawa Timur sejak lama dikenal sebagai basis “Ijo-Abang”, yang merepresentasikan dua kekuatan besar dalam masyarakat. Menurutnya, Nahdlatul Ulama (NU) dan PDI Perjuangan memiliki akar di Jawa Timur. Ia menjelaskan bahwa NU merepresentasikan kekuatan santri, sementara PDI Perjuangan mewakili kekuatan nasional. Keduanya menjadi akar politik hingga ke tingkat kampung-kampung di Jawa Timur.
Namun, Said melihat bahwa pembelahan sosial yang dulu digambarkan oleh Clifford Geertz kini semakin melebur. Ia menyebutkan, dalam berbagai survei nasional, pemilih yang mengaku sebagai bagian dari NU justru banyak menyalurkan suaranya kepada PDI Perjuangan. Oleh karena itu, Said menegaskan bahwa PDI Perjuangan, apalagi di Jawa Timur, tidak akan meninggalkan NU.
Kesamaan Kondisi Sosial antara Santri dan Abangan
Said juga menyoroti kesamaan kondisi sosial antara kelompok santri dan abangan. Ia menilai perbedaan di antara keduanya sangat tipis, sementara tantangan yang dihadapi justru sama. Menurutnya, santri dan abangan hanya beda sehelai bulu saja, yang satu rajin sholat, yang satu kurang rajin sholat. Namun, nasib mereka sama, sama-sama miskin, sama-sama mayoritas yang terbelakang dari sisi pendidikan, sama-sama susah mendapatkan pekerjaan yang layak, pokoknya sama-sama kisah sedih isinya. Banyak kesamaannya, minim perbedaanya.
Pembagian peran antara organisasi keagamaan dan partai politik juga menjadi fokus utama Said Abdullah. Menurutnya, NU memiliki tugas sosial dalam memberdayakan umat, sementara PDI Perjuangan berperan dalam memperjuangkan kebijakan publik yang berpihak pada rakyat. Hal ini menunjukkan bahwa kedua institusi tersebut saling melengkapi dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Kedekatan Politik antara NU dan PDI Perjuangan
Said Abdullah menekankan bahwa hubungan antara NU dan PDI Perjuangan tidak hanya sekadar aliansi politik, tetapi juga didasari oleh kesamaan visi dan misi. Kedua organisasi ini memiliki komitmen untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Ia menilai bahwa NU dan PDI Perjuangan memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk peta politik Jawa Timur yang stabil dan berkelanjutan.
Selain itu, Said juga menyoroti pentingnya menjaga harmonisasi antara nilai-nilai keagamaan dan kepentingan politik. Menurutnya, NU dan PDI Perjuangan harus bekerja sama dalam merancang kebijakan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga sesuai dengan prinsip-prinsip keagamaan dan moral.
Relevansi Masa Depan Politik Jawa Timur
Dalam konteks masa depan, Said Abdullah menilai bahwa keberlanjutan kerja sama antara NU dan PDI Perjuangan akan menjadi kunci dalam menjawab tantangan politik dan sosial di Jawa Timur. Ia menekankan bahwa keberagaman masyarakat Jawa Timur harus dijadikan sebagai kekuatan, bukan ancaman. Dengan memahami jati diri masing-masing kelompok, maka dapat dibangun semangat persatuan yang kuat.***





