SOROTJATIM.COM – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI kembali menunjukkan kinerja yang menarik bagi para pemegang saham. Pada tahun buku 2025, bank pelat merah ini telah menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 13,03 triliun. Besaran dividen tersebut setara dengan Rp 349,41 per saham, yang akan cair pada Selasa (7/4/2026).
Pembagian dividen ini menjadi bentuk komitmen BNI untuk memberikan imbal hasil optimal kepada para pemegang saham. Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menjelaskan bahwa keputusan ini merupakan bagian dari upaya perseroan dalam memberi nilai tambah serta memastikan pertumbuhan berkelanjutan. “Keputusan ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk memberi nilai tambah bagi para pemegang saham, sekaligus memastikan kinerja perusahaan dapat terus tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Okki.
Penurunan Harga Saham dan Tekanan Pasar
Meski pembagian dividen positif, harga saham BNI mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Dari tanggal 25 Maret hingga 6 April 2026, saham BBNI selalu ditutup di zona merah. Dalam sebulan terakhir, saham BNI turun hingga 14,95%. Investor asing juga mencatatkan net sell senilai Rp 1,38 triliun selama periode tersebut.
Pada perdagangan Senin (6/4/2026), saham BBNI ditutup pada level Rp 3.640 per lembar, turun 1,62% dari hari sebelumnya. Ini menjadi level terendah sepanjang tahun berjalan.
Valuasi yang Masih Menarik
Secara valuasi, BNI dinilai masih murah. Rasio Price to Book Value (PBV) mencapai 0,79 kali, sementara Price Earning Ratio (PER) berada di angka 6,77 kali. Angka-angka ini menunjukkan bahwa saham BNI memiliki potensi pertumbuhan yang cukup baik di masa depan.
Pembagian dividen ini sebelumnya telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun buku 2025 yang digelar pada 9 Maret 2026. Dividen tunai yang ditetapkan dalam RUPST tersebut setara dengan 65% dari laba bersih konsolidasian yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 20,04 triliun.
Reaksi Pasar dan Prediksi Kenaikan
Meskipun ada tekanan dari pasar, banyak analis melihat potensi kenaikan saham BNI dalam jangka panjang. Sejumlah ahli finansial memprediksi bahwa dengan kinerja keuangan yang stabil dan rasio valuasi yang rendah, BNI bisa menjadi pilihan investasi yang menarik.
Beberapa pengamat juga menyebutkan bahwa kinerja BNI tidak hanya terlihat dari dividen, tetapi juga dari stabilitas fundamental perusahaan. Hal ini termasuk kemampuan BNI dalam menjaga kesehatan keuangan, terlebih di tengah tantangan ekonomi makro yang masih terjadi.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Selain itu, BNI juga dihadapkan pada tantangan seperti fluktuasi kurs mata uang dan tingkat bunga. Namun, dengan strategi manajemen risiko yang baik, bank ini mampu bertahan dan bahkan tumbuh.
Di sisi lain, peluang untuk meningkatkan pendapatan juga terbuka lebar. Dengan jumlah nasabah yang besar dan jaringan kantor yang luas, BNI memiliki potensi untuk memperluas bisnisnya, terutama di sektor digital dan layanan keuangan syariah.
Secara keseluruhan, kinerja BNI dalam tahun buku 2025 menunjukkan bahwa bank ini masih memiliki daya tarik sebagai investasi. Meski ada tekanan dari pasar, nilai intrinsik saham BNI tetap kuat. Dengan rasio PBV yang rendah dan komitmen pembagian dividen yang konsisten, BNI layak menjadi salah satu pilihan utama bagi investor yang mencari saham dengan potensi pertumbuhan dan imbal hasil yang menarik.






