SOROTJATIM.COM – Indonesia sedang mengalami pergeseran signifikan dalam pendekatan pembangunan ekonomi. Fokus utama kini beralih dari menjaga stabilitas ke pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, serta mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam forum internasional seperti IMF-WB Spring Meeting.
Tiga Pilar Utama Transformasi Ekonomi
Transformasi ekonomi Indonesia didorong oleh tiga pilar utama: investasi, industrialisasi, dan produktivitas. Menkeu menyatakan bahwa pemerintah terus memperkuat sektor manufaktur, meningkatkan sumber daya manusia, serta meningkatkan efisiensi. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya stabil, tetapi juga lebih berkelanjutan dan terdiversifikasi.
Purbaya menekankan pentingnya pengembangan industri hilir sebagai bagian dari strategi tersebut. Selain itu, pemerintah juga berupaya memperkuat sektor manufaktur melalui berbagai kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing nasional.
Kinerja Ekonomi yang Relatif Kuat
Kinerja ekonomi Indonesia saat ini dinilai relatif kuat dibandingkan negara-negara G20 dan negara berkembang lainnya. Hal ini didukung oleh pertumbuhan yang solid, inflasi rendah, serta defisit dan rasio utang yang terjaga. APBN berperan sebagai shock absorber dalam melindungi daya beli masyarakat, sementara disiplin fiskal tetap dipertahankan di bawah batas defisit 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, pemerintah akan mengoptimalkan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN.
Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2026
Dalam forum IMFC Restricted Breakfast Meeting, Purbaya menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia mampu mencetak pertumbuhan sebesar 5,4-6 persen pada 2026, meskipun di tengah ketegangan global. Optimisme ini didasarkan pada fondasi ekonomi nasional yang solid. Saat banyak negara mengalami perlambatan, ekonomi Indonesia tetap tumbuh sebesar 5,11 persen pada 2025.
Neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus sebesar 1,27 miliar dolar AS pada Februari 2026, melanjutkan tren surplus selama 70 bulan berturut-turut. Kinerja positif ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, inflasi yang terkendali, defisit fiskal yang terjaga, serta keberlanjutan kebijakan hilirisasi.
Perhatian terhadap Dinamika Global
Meski demikian, Menkeu menegaskan bahwa pemerintah tetap mewaspadai dinamika global, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga energi. Untuk meredam guncangan harga, pemerintah telah memprioritaskan pembentukan bantalan fiskal serta memastikan stabilitas bahan bakar bersubsidi guna melindungi daya beli masyarakat.
Sebagai respons, pemerintah juga akan terus mendorong efisiensi belanja negara dan mempercepat transformasi struktural jangka panjang, termasuk melalui penguatan program hilirisasi.
Strategi Jangka Panjang untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan terus berkomitmen pada strategi jangka panjang yang bertujuan untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Hal ini mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan sektor industri, serta pengelolaan sumber daya alam secara optimal.
Dengan pendekatan ini, Indonesia berharap dapat membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat dan siap menghadapi tantangan global di masa depan.***

