Dampak Kenaikan Harga Kedelai Terhadap Industri Tempe di Jawa Timur

SOROTJATIM.COM – Kenaikan harga kedelai yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai memberi tekanan berat kepada para produsen tempe, khususnya di wilayah Jawa Timur. Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti konflik regional di kawasan Timur Tengah dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Para pengrajin tempe rumah tangga mengaku kesulitan untuk menjaga kestabilan produksi akibat kenaikan biaya bahan baku.

Peran Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Harga

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah menunjukkan perhatian serius terhadap situasi ini. Ia menyatakan bahwa pemerintah akan segera memanggil importir untuk meminta mereka tidak menaikkan harga kedelai secara berlebihan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas pangan nasional, terutama komoditas utama seperti beras dan kedelai.

“Kami akan meminta importir untuk tidak menaikkan harga terlalu tinggi. Mari kita jaga stabilitas harga pangan dan kita ada empati, peduli saudara-saudara kita,” ujar Amran.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah sadar betapa pentingnya peran pelaku impor dalam menjaga keseimbangan pasar. Namun, selain itu, masyarakat juga mengharapkan adanya kebijakan yang lebih proaktif untuk melindungi produsen lokal dari tekanan eksternal.

Pengalaman Produsen Tempe Rumah Tangga

Tumiasih, salah satu pengrajin tempe rumah tangga di Surabaya, mengungkapkan kesulitannya dalam menghadapi kenaikan harga kedelai. Ia mengatakan bahwa harga kedelai naik dari Rp10.000 menjadi Rp11.100 per kilogram, dengan ancaman kenaikan lanjutan.

“Kalau [harga kedelai] naik terus, tidak tahu lagi mau mengaturnya ini gimana. Soalnya pelanggannya mengeluh, sedangkan saya yang untuk produksi mengeluh juga karena bahannya naik, sedangkan pengeluaran saya itu banyak, keuntungan saya itu sangat tipis sekarang ini,” katanya.

Tumiasih mengatakan bahwa ia harus mengurangi takaran kedelai dalam setiap papan tempe agar bisa tetap menjaga harga jual yang relatif stabil. Meski begitu, hal ini membuat dirinya merasa terbebani karena biaya produksi meningkat sementara pendapatan tidak meningkat signifikan.

Ketergantungan Impor Kedelai di Indonesia

Data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur menunjukkan bahwa sekitar 80-90% kebutuhan kedelai nasional masih bergantung pada pasokan impor. Amerika Serikat menjadi pemasok utama, dengan volume impor yang sangat besar.

Namun, meskipun ketergantungan impor tinggi, ekspor kedelai dari Jawa Timur juga tercatat cukup baik. Pada tahun 2025, ekspor kedelai mencapai 2.594.950 kilogram dengan nilai transaksi US$941.459. Negara tujuan utamanya adalah negara-negara ASEAN seperti Timor Leste dan Brunei Darussalam.

Meski demikian, volume impor kedelai Jawa Timur masih jauh lebih besar dibandingkan ekspornya. Pada 2025, impor kedelai mencapai 801.480.406 kilogram dengan nilai transaksi hingga US$371,9 juta. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi pasar kedelai masih sangat rentan terhadap perubahan global.

Harapan Produsen untuk Stabilitas Harga

Tumiasih berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan harga kedelai. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak meminta harga yang murah, hanya ingin bisa menjaga kelangsungan hidup usaha yang telah dirintis selama 25 tahun.

“Kalau harapan saya ya harganya distabilkan aja lah. Kita juga nggak minta murah, enggak minta aneh-aneh, yang penting kita itu masih bisa memasarkan ke pelanggan biar enggak protes,” harapnya.

Permintaan ini tidak hanya datang dari Tumiasih, tetapi juga dari banyak produsen tempe lainnya yang menghadapi tantangan serupa. Mereka berharap pemerintah bisa memberikan kebijakan yang lebih mendukung industri kecil dan menengah di bidang pangan.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *