SOROTJATIM.COM – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengambil langkah penting dalam mempersiapkan lulusannya menjadi creative leader di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Perkembangan ini tidak hanya sekadar kemajuan teknologi, tetapi juga perubahan paradigma dalam cara manusia berpikir, berkarya, dan berinteraksi. Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, M.Hum., menegaskan bahwa institusi ini berkomitmen untuk menjaga tradisi sambil sekaligus memimpin inovasi.
>Dunia seni kini tidak lagi terbatas pada medium konvensional, melainkan berdialog dengan algoritma, data, realitas virtual, dan ekosistem digital global. “Kita tidak sedang berhadapan dengan pilihan antara seni atau teknologi, sehingga pihaknya mendorong lahirnya sintesis kreatif di mana nilai budaya, riset artistik, dan kecerdasan teknologi bertemu untuk menciptakan bentuk-bentuk ekspresi baru yang relevan dengan zaman,” ujarnya melalui keterangan resminya.
Perkembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia
Ekonomi kreatif Indonesia hari ini berkembang sebagai salah satu motor pertumbuhan nasional. Industri film, animasi, gim, fotografi, desain komunikasi visual, musik, dan seni pertunjukan telah memasuki lanskap global yang sangat kompetitif. AI mempercepat proses produksi, memperluas distribusi, dan membuka model monetisasi baru. Namun, diferensiasi sejati tidak lahir dari kecanggihan perangkat semata, melainkan dari kedalaman gagasan, kekuatan narasi, dan keberanian menghadirkan identitas budaya yang otentik.
Menjadi Creative Leader
Untuk itu, ISI Yogyakarta berupaya melahirkan lulusan dengan modal yang sangat kuat yakni kepekaan estetik, kemampuan konseptual, pengalaman riset dan penciptaan, serta jejaring kolaborasi lintas disiplin. Pada Sabtu (7/3/2026), setidaknya ada 435 wisudawan pada periode wisuda semester genap tahun akademik 2024/2025 yang terdiri dari 392 wisudawan jenjang sarjana, 31 wisudawan jenjang sarjana terapan/diploma IV, 8 wisudawan jenjang magister dan 4 wisudawan jenjang Doktor.
Wisudawan ini pula didorong menjadi lulusan creative leader yang kuasa AI. “Inilah fondasi untuk menjadi creative leader, bukan hanya pekerja kreatif, tetapi pencipta ekosistem. Saudara diharapkan mampu memanfaatkan AI sebagai alat strategis, mengembangkannya secara etis dan kritis, serta menjadikannya instrumen untuk memperluas daya jangkau karya seni Indonesia di panggung dunia,” ujar dia.
Visi Ke depan ISI Yogyakarta
Ke depan, ISI Yogyakarta akan terus memperkuat riset berbasis praktik (practice-based research), kolaborasi industri, inkubasi karya, serta kemitraan internasional. Pihaknya ingin memastikan bahwa setiap lulusan tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan kerja, tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi mampu menjadi agen perubahan.
“Saya percaya, di tangan Saudara, seni Indonesia akan tampil lebih berdaya, lebih inovatif, dan lebih bermartabat dalam lanskap global yang semakin terdigitalisasi. Jadilah generasi yang mampu merangkul teknologi tanpa kehilangan jiwa, yang berani berinovasi tanpa tercerabut dari akar budaya, dan yang menjadikan kreativitas sebagai kekuatan transformasi bangsa,” tandasnya.





