SOROTJATIM.COM – Pertumbuhan ekonomi Singapura pada kuartal pertama tahun 2026 mengalami penurunan dibandingkan ekspektasi pasar. Laporan yang dirilis menunjukkan bahwa PDB negara tersebut tumbuh sebesar 4,6% selama periode tersebut. Angka ini lebih rendah dari prediksi para ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan sebesar 5,9%. Selain itu, data awal dari Kementerian Perdagangan Singapura menunjukkan bahwa PDB terkontraksi sebesar 0,3% dibandingkan kuartal keempat tahun lalu.
>Perubahan ini memicu respons dari Monetary Authority Singapore (MAS). Pihak berwenang memutuskan untuk memperketat kebijakan moneter guna menghadapi ancaman krisis energi akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Perang di kawasan Timur Tengah dianggap menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi inti Singapura.
Inflasi Inti Singapura Meningkat, MAS Memperbarui Prediksi
Inflasi inti Singapura mencatatkan angka sebesar 1,4% secara tahunan pada bulan Februari 2026, sebelum konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga. MAS kemudian memutuskan untuk meningkatkan perkiraan inflasi inti dan utama untuk tahun ini menjadi 1,5%-2,5%, naik dari estimasi sebelumnya yang sebesar 1,0%-2,0%.
Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap gangguan rantai pasok minyak dan kenaikan harga energi global. MAS juga menyatakan bahwa biaya impor barang dan jasa akan meningkat dalam beberapa kuartal mendatang.
Kebijakan S$NEER Diperkuat, Tidak Ada Perubahan Batas Bawah Atas
Meski melakukan penyesuaian, MAS menegaskan bahwa tidak ada perubahan terhadap batas atas-bawah atau titik tengah kebijakan S$NEER. Namun, pihak berwenang berencana sedikit mempercepat penguatan nilai tukar dolar Singapura sesuai dengan perkiraan analis.
“Kemungkinan pertumbuhan PDB akan melambat sepanjang tahun ini, sementara kesenjangan output diperkirakan rata-rata sekitar 0%. Biaya energi impor Singapura telah meningkat. Harga berbagai barang dan jasa impor diperkirakan akan meningkat dalam beberapa kuartal mendatang,” ujar MAS.
Risiko Inflasi Berkelanjutan, Ekonom Beri Peringatan
Ekonom senior dari Oxford Economics, Sheana Yue, menilai bahwa langkah moneter yang diambil MAS belum cukup untuk mengatasi skenario inflasi yang parah. Namun, ia menyoroti risiko tekanan biaya yang lebih berkelanjutan, terutama melalui sektor makanan dan upah.
“Jika dampak putaran kedua terwujud lebih cepat dari yang diperkirakan, maka pengetatan kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan,” tambahnya.
Tantangan Ekonomi Singapura di Tengah Ketidakpastian Global
Singapura, yang bergantung pada perdagangan internasional, kini menghadapi tantangan besar akibat ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga energi. Kebijakan moneter yang diambil oleh MAS bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi meskipun kondisi global tetap tidak pasti.
Dalam situasi ini, pemerintah dan lembaga kebijakan harus terus memantau perkembangan inflasi, biaya impor, serta dampak dari konflik di kawasan Timur Tengah.




