SOROTJATIM.COM – Selat Hormuz, jalur laut penting yang menjadi penghubung utama pasokan minyak global, kembali menjadi pusat perhatian setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memunculkan ancaman terhadap keamanan pelayaran. Situasi ini berdampak langsung pada aktivitas kapal-kapal yang melintasi wilayah tersebut, dengan fluktuasi lalu lintas yang mencerminkan ketidakstabilan di kawasan.
Peningkatan Lalu Lintas Kapal di Akhir Pekan
Pada akhir pekan lalu, tercatat sejumlah besar kapal melintasi Selat Hormuz, termasuk tanker minyak, kapal kargo, dan kontainer. Salah satu kapal yang tercatat adalah FPMC C Lord, yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Arab Saudi menuju Taiwan. Data dari LSEG menunjukkan bahwa sebanyak 20 kapal berhasil melewati jalur vital ini pada hari Sabtu, mengindikasikan tingkat kepercayaan yang relatif tinggi terhadap stabilitas kawasan.
Namun, situasi berubah drastis pada hari Minggu. Setelah serangkaian insiden serangan terhadap kapal komersial, lalu lintas kapal nyaris terhenti. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha maritim dan pasar energi global.
Dampak pada Harga Minyak Dunia
Ketidakstabilan di Selat Hormuz langsung terasa pada pasar minyak. Pada Senin, harga minyak dunia melonjak sekitar 6% akibat minimnya aktivitas pelayaran. Data menunjukkan hanya tujuh kapal yang melintasi selat pada hari itu, meski sedikit meningkat dibandingkan hari sebelumnya, tetapi masih jauh di bawah kondisi normal.
Perubahan ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap gangguan di jalur vital seperti Selat Hormuz. Sebagian besar pasokan minyak dunia melalui jalur ini, sehingga gangguan apapun dapat memicu gejolak harga secara global.
Tindakan Iran dan Reaksi AS
Iran sebelumnya menyatakan bahwa Selat Hormuz terbuka untuk pelayaran komersial setelah gencatan senjata di Lebanon yang dimediasi AS. Namun, sehari kemudian, Teheran kembali menutup jalur tersebut setelah Presiden AS, Donald Trump, menolak mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Insiden serangan terhadap kapal-kapal komersial juga memperburuk situasi. Garda Revolusi Iran dilaporkan menembaki sebuah kapal tanker pada Sabtu, sementara proyektil tak dikenal menghantam kapal kontainer, menurut laporan dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris.
“Kami sangat prihatin karena dua kapal berbendera India menjadi target serangan di kawasan tersebut,” kata perwakilan pemerintah India dalam pernyataannya.
Di sisi lain, militer AS juga meningkatkan respons. Angkatan Laut AS dilaporkan menembaki sebuah kapal kargo Iran di Teluk Oman sebelum Marinir mengambil alih kendali kapal tersebut. Trump menyebut kapal itu berupaya menerobos blokade laut yang diberlakukan Washington terhadap Iran.
Aktivitas Kapal di Bawah Ancaman
Meskipun Iran memberi izin bagi beberapa kapal untuk melintasi jalur tersebut, kondisi tetap tidak stabil. Data dari AFP menunjukkan bahwa puluhan kapal komersial melewati Selat Hormuz sebelum Iran menutup kembali jalur tersebut pada hari Sabtu. Pada Minggu, hanya empat kapal yang berhasil menyeberang ke kedua arah, menurut perusahaan pelacakan maritim Kpler.
Pada Senin, kapal Nova Crest berbendera Iran yang dikenai sanksi oleh AS, meninggalkan Teluk sekitar pukul 04.00 GMT. Kapal lalu melanjutkan perjalanannya melalui Teluk Oman. Iran juga mengizinkan kapal tanker gas Axon I yang dikenai sanksi untuk memasuki Teluk kemarin, dengan kapal mengarah ke UEA dan disebut “tidak tunduk pada blokade AS”.
Ancaman yang Mengancam Stabilitas Global
Situasi di Selat Hormuz kembali menegaskan rapuhnya stabilitas di kawasan ini. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini berpotensi memicu gejolak harga energi global. Dengan ratusan kapal yang melintasi jalur ini setiap hari, ketegangan antara AS dan Iran bisa berdampak luas, baik secara ekonomi maupun politik.
Seiring meningkatnya risiko konflik, negara-negara yang terlibat harus segera mencari solusi damai untuk menjaga kelancaran perdagangan dan stabilitas global.***




